Jumat, 17 Februari 2017

UANG MILIKMU, TAPI SUMBER ALAM MILIK BERSAMA



Ini kesaksian penuh makna dari seseorang yang punya pengalaman berharga di Jerman. Selamat menyimak: 😎

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya.

Ketika saya tiba di Hamburg, bersama rekan-rekan kami masuk ke restoran. Kami melihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada 2 piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka. Saya bertanya dalam hati, "apa hidangan yang begitu simple ini bisa disebut romantis?"

Kemudian ada beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan & mereka menghabiskan setiap butir makanan yang ada di piring mereka.
Karena kami lapar, rekan kami memesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja.

Tapi begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang duduk dari meja sebelah menegur kami dalam bahasa Inggris, menyatakan bahwa mereka tidak senang karena kami memubazirkan makanan.
Sahabat saya lalu menjawab teguran itu: "Lho kami yang membayar kok, ini bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa...".

Mendadak Wanita tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera mengeluarkan HP & menelpon seseorang. Tak lama kemudian seorang pria berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 pada kami. Kami semua terdiam.

Petugas tersebut lalu berkata dengan suara yang galak:

“PESANLAH MAKANAN YANG SANGGUP ANDA MAKAN, UANG ITU MILIKMU TAPI SUMBER DAYA ALAM INI MILIK BERSAMA. ADA BANYAK ORANG LAIN DI DUNIA YANG KEKURANGAN. KALIAN TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MENYIA-NYIAKAN SUMBER DAYA ALAM TERSEBUT" 

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut membuat kami sungguh merasa malu. Bayangkan, kita yang berasal dari negara yang tidak makmur-makmur amat hidup dengan gengsi, dan sering pesan makanan berlebihan di restoran atau saat menjamu tamu.

Saya pribadi juga sering terusik melihat ketika di pesta pernikahan misalnya. Betapa banyak orang mengambil makanan, tidak menghabiskan, lalu menyisakannya begitu saja. Mengapa tak mengambil makanan itu secukupnya? Ya, secukupnya..

Pelajaran ini sangat penting.
“MONEY IS YOURS BUT RESOURCES BELONG TO THE SOCIETY. 

Kawan, marilah mengurangi pemubaziran, karena uang memang milikmu, tapi sumber daya alam itu milik bersama...

Agama sudah lebih dahulu dari mereka mengajarkan kita agar tidak berlebihan dalam membelajakan sesuatu alias mubazir.

non muslim saja menerapkan norma islam dalam kehiupannya sehingga tercipta negara makmur , masa kamu sebagai muslim mundur gituuu aja ???? Masih mau gengsi ????



@3q4

Selasa, 12 April 2016

JANGAN BANDINGKAN IBRAHIM 'alayhi salam DENGAN DIRI KITA


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ 

السَّلاَمُ  عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

kajian Al-Qur'an Setiap Hari 

bersama 

ustad Dodo  Hidayat sunally 


JANGAN BANDINGKAN IBRAHIM 'alayhi salam DENGAN DIRI KITA

Jujur, siapa orang yang paling kita cintai dalam hidup kita? Apakah dia pasangan hidup kita? Apakah dia mantan kekasih? Apakah dia selingkuhan kita? Orang tua kita? Tokoh idola kita? Atau siapa?
Trus, berapa kali kah dia kita sebut namanya sehari semalam? Sebanyak-banyaknya kita menyebut nama orang yang sangat kita cintai, tidak akan lebih dari 10 kali sehari semalam.
Lalu, adakah sosok manusia yang kita sebut namanya paling tidak 36 kali sehari semalam selain Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam?

Ada! Dia adalah Ibrahim 'alayhi salam. Figur manusia pilihan yang menjadi salah satu teladan utama dalam hidup kita. Figur yang seharusnya kita merasa dekat bahkan mencintainya. Namanya saja kita sebut lebih banyak dari siapapun manusia yang kita cintai dalam hidup kita selain Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam.

Namanya sering kita sebut dalam shalawat ibrahimiyyah ketika tasyahud dalam shalat. Tetapi apakah karena sering kita sebut namanya, lantas otomatis kita merasa dekat dan lalu mencintainya? Saya koq ragu dengan adagium itu.
jangan-jangan malah kita tidak kenal dengan sosok Ibrahim 'alayhi salam. Kalau pun kenal, paling hanya sepintas saja, itu pun karena kadang diulang sejarahnya saat musim qurban.
Tak kenal maka tak sayang. Tidak sayang maka tidak cinta. Tidak cinta maka bagaimana akan bisa kita meneladaninya?

Padahal dialah manusia yang paling banyak mendapatkan gelar istimewa dari siapa pun manusia yang pernah hidup di muka bumi ini dari dulu sampai hari akhir kelak.

1).  Beliau bergelar " ABUL ANBIYA' " , bapak dari para nabi-nabi.
Karena dari keturunan beliaulah lahir (paling tidak) 18 orang nabi ! Isma'iyl, Ishaq,        Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Dzulkifli, Syu'aib, Yunus, Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa, Dawud, Sulayman, Zakariyya, Yahya, 'Isya alayhimus salam dan terakhir Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam.
Bayangkan ! 18 orang keturunannya adalah nabi dan rasul. Padahal jumlah nabi dan rasul yang diungkap Al Qur'an cuma 25 orang.

2).  Beliau juga bergelar " 'ULUL AZMI ', yang memiliki pribadi yang teguh dalam   menegakkan syari'at.
Dalam sejarah mereka yang bergelar Ulul Azmi cuma lima sosok saja, yakni Ibrahim, Nuh, Musa, 'Isya alayhimus salam dan terakhir Rasulullah Muhammad shallallahu 'alayhi wasallam.

3).  Beliau juga bergelar " UMMAT" , padahal beliau seorang diri, bukan kelompok.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ                        

Sesungguhnya Ibrahim adalah “UMMATAN” yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif . Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan. (QS. An-Nahl/16 : 120)

Kenapa Ibrahim 'alayhi salam seorang diri digelari ummat tidak lain karena kualitas pribadinya yang begitu luar biasa setara dengan ratusan bahkan ribuan orang.

4).  Beliau bergelar " KHALILULLAH " , kekasih Allah.
Inilah gelar dari segala gelar yang langsung dianugerahkan Allahu Ta'ala kepada beliau. Tidak satu pun manusia yang mendapat gelar paling prestesius ini.

 وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi "khalil" kekasih-Nya. (An Nisa' /4 : 125).

Apalagi yang kurang dari sosok yang begitu paripurna seorang Ibrahim. Semua yang menyangkut pribadinya adalah keteladanan demi keteladanan. Keturunannya yang melahirkan 18 orang nabi dan rasul adalah bukti sejarah yang menjelasterangkan Ibrahim adalah bukan sembarang manusia, tapi dia adalah manusia shaleh sekaligus pendidik unggul. Gelarnya yang Khalilullah mempetakan betapa dekatnya Ibrahim dengan Khaliqnya yang tentu diraihnya dengan ketaatan dan kepatuhan, ketundukkan dan kepasrahan yang terus menerus dijalani dengan penuh istiqamah. Mana mungkin kita berani membandingkanlah sosok Ibrahim 'alayhi salam dengan kita !

Namun siapa sangka Ibrahim 'alayhi salam yang sosoknya begitu paripurna dan sangat mencolok bila dibandingkan dengan kita, ternyata pernah berdo'a miris,

وَلَا تُخۡزِنِىۡ يَوۡمَ يُبۡعَثُوۡنَ

 يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ

داِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡمٍ

 

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
(Asy-Syu'araa/26 : 87-89)

Ada 3 hal yang sangat essensial dalam do'a yang dipanjatkan Ibarahim 'alayhi salam tersebut,
Pertama,
Manusia sekaliber Ibrahim yang tidak ada yang meragukan lagi keshalihannya serta kemulyaannya itu ternyata tetap saja menyimpan kekhawatiran kalau-kalau dia termasuk orang yang dihinakan di hari qiyamat nanti.
Ibrahim 'alayhi salam menyadari bahwa segala gelar kemulyaan di sunia ini tidak ada artinya lagi bila pada akhirnya nanti akan terhina di akhirat.
Pantaslah dia khawatir dan berdo'a

وَلَا تُخۡزِنِىۡ يَوۡمَ يُبۡعَثُوۡنَۙ

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari qiyamat,

Kedua,
Ketika hari di mana manusia dibangkitkan nanti maka akan terjadi devaluasi besar-besaran terhadap nilai kekayaan (harta) dan keturunan (termasuk pengikut) yang mana sebelumnya unruk ukuran dunia harta dan keturunan adalah variabel utama kesuksesan hidup dan kehidupan manusia.
Harta dan keturunan adalah sesuatu yang begitu kita bangga-banggakan, kita cari mati-matian siang dan malam. Tetapi ketika kita sampai di akhirat, keduanya menjadi tidak penting karena yang akan dinilai "amal" bukannya "maal"

 يَوۡمَ لَا يَنۡفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوۡنَۙ


(yaitu) di hari harta dan anak-anak keturunan tidak lagi berguna

Ketiga,
Qalbun salim (hati yang bersih, bening, sehat) adalah modal utama keselamatan di alhirat. Dengan kata lain, jaminan keselamatan di akhirat kelak hanyalah diberikan kepada orang-orang yang datang memghadap Allahu Ta'ala dengan hati yang salim, bersih, bening, sehat.

داِلَّا مَنۡ اَتَى اللّٰهَ بِقَلۡبٍ سَلِيۡم

ٍ
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,

Selanjutnya,
Luar biasanya lagi hanya dua kali frase Qalbun Salim dimuat dalam Al Qur'an dan dua-duanya memgacu kepada sosok Ibrahim 'alayhi salam.

Apa dan bagaimana Qalbun Salim itu, akan sama kita bahas in sya ' Allah dalam pertemuan yang berikutnya.

Wallahu a'lam !




Jumat, 08 April 2016

IODOHMU ADALAH CERMINAN DIRIMU

kajian Muslimah 

narasumber : Ustadz widyo Hartanto

Forum Kajian Al-Qur'an Setiap Hari

kajian online, 2 juni 2014

*********************************


         Waktu menunjukkan pukul 23.50. Mata ini masih enggan terpejam, walaupun sudah segala cara kucoba. Mulai dari memaksakan mata untuk terpejam, baca buku (he, katanya baca buku bisa menjadi obat mujarab untuk bisa memejamkan mata buat sebagian orang) dan terakhir mematikan lampu. Akhirnya kucoba untuk memanfaatkan dini hari ini, untuk merefleksi. Memuhasabah kembali, mereview kejadian-kejadian yang telah aku lewati.
         Teringat beberapa pekan lalu. Ketika pertemuan rutin kami di salah satu rumah. Awalnya pembahasan hari itu mengenai pengalaman rekan-rekan yang sudah menikah. Bagaimana proses sebuah pernikahan itu agar tetap sesuai dengan syariat yang telah ditentukan. Bagaimana sehingga akhirnya kita bisa menentukan dan memantapkan hati agar menerima seseorang untuk menjalankan visi hidup secara bersama. Yakni bukan hanya sekadar menjalin kasih sayang antar dua makhluk. Bukan hanya menikahkan dua orang anak manusia. Tetapi juga menikah dua keluarga yang pasti memiliki perbedaan yang signifikan. Selain itu menikah juga membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan di bawah rahmat Allah serta menjadikan regenerasi yang mampu melanjutkan perjuangan dijalan dakwah ini. Ada banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan nasihat bagi kami yang nota bane belum berumah tangga. Sehingga sesekali ada gurauan yang ku lontarkan kepada kakak-kakak agar menyegerakan dan menyempurnakan separuh din nya.
         Ada satu kisah menarik yang diceritakan. Yaitu tentang seorang laki–laki yang sudah hampir lanjut usia. Umurnya sudah hampir kepala 4. Anggap lah si A. Tetapi ia masih belum menemukan jodoh. Padahal dari sisi lain dia adalah seorang yang mengerti agama, pintar, dan mampu dari segi materil. Hanya saja ketika ada yang bertanya criteria seperti apa yang ia inginkan. Sampai-sampai dari sebanyak-banyaknya wanita yang ia temui. Belum ada yang membuatnya tertarik untuk dijadikan pendamping. Mungkin inilah sumber masalah yang membuat ia belum menikah. Ketika ditanya sahabatnya (si B) calon seperti apa yang ia inginkan. Dan A menjawab, “dia harus seperti Siti Khadijah. Minimal mendekati. Harus cerdas, kaya jika perlu putih, pintar ini, pintar itu dll”. Si B kaget, tapi mencoba menenangkan diri. Sambil bertanya lagi kepada si A. “Jika kamu menginginkan kriteria pendamping yang kamu sebutkan tadi. Dan hampir mendekati seperti ibunda Khadijah RA. Apakah kamu sudah seperti Rasulullah? Yang rela berjuang untuk dakwah ini dengan perjuangan yang luar biasa? Sontak si A kaget. Dan membuatnya berfikir kembali dengan kriteria yang telah ditentukannya untuk mencari pendamping hidup.

         Kisah itu masih berlanjut dengan di sampai hikmah dari cerita itu. Dan aku juga mencoba mencerna kisah tersebut. Ketika menginginkan seorang pendamping hidup nantinya. Pasti, sejak kemarin sudah ada kriteria-kriteria yang sudah ada di pikiran ini. Harus seperti apakah ia nanti, punya apa, hafalannya sudah berapa juz? Sudah paham tentang Islam sejauh apa? Aplikasi tentang pemahamannya sudah benar apa belum? Cerdas tidak? Gigih tidak? Sungguh-sungguh tidak? Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain yang menentukan kriteria pendamping hidup ku nanti. Tapi kisah tadi membuat ku berfikir lagi dengan kriteria-kriteria yang sudah aku tetapkan. Seperti yang aku ketahui selama ini. Pasangan kita adalah cerminan dari diri kita. Ketika aku mengajukan kriteria-kriteria yang bejibun banyaknya dan mendekati sempurnanya seorang manusia. Apakah aku sudah menjadi pribadi yang aku sebutkan pada kriteria yang aku ajukan? Atau masih jauh dari semua itu? Nah, jika masih jauh dari semua kriteria itu, apakah pantas kita meminta lebih sementara kita tidak berusaha untuk menjadi pribadi yang ada pada kriteria yang kita tetapkan. Ternyata masih sangat jauh. Masih jauh. Gumamku dalam hati. Jika ingin pendamping seperti Rasulullah, jadikan dulu dirimu seperti Khadijah atau Aisyah. Jika ingin pendamping seperti Ali bin Abi Thalib, jadikan dulu dirimu seorang seperti Fatimah Azzahra. Begitu juga yang lainnya
         Subhanallah. Sore itu cukup menjadi pelajaran bagiku. Cukup menjadi barometer untuk berpikir kembali. Teman….Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah, nasihat atau apapun yang kita lihat dan yang kita dengar. Agar kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang berpikir. Hanya saja apakah kita mau atau tidak mendengarkan dan mencerna nasihat itu agar menjadi suatu pembelajaran untuk diri kita. Wallahu’alam

 



Kamis, 07 April 2016

Tahukah Kamu, Apakah Jalan Mendaki Lagi Sukar Itu ?



*******

“Bukankah telah Kami berikan kepadanya dua mata, lidah, dan dua bibir?
Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan? Tetapi ia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?


(Yaitu) membebaskah orang-orang yang tertindas, atau memberi makan di masa-masa kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Hanya dengan begitu kamu termasuk orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang.”
(QS. Al-Balad, 8 – 16)
*******

Tatkala berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit, bagai “buah simalakama”, manakah jalan yang Anda pilih? Apakah cenderung mengambil jalan “enak” yang lebih mudah? Ataukah berusaha mengikuti ketukan suci hati nurani … yang biasanya memang lebih sulit?

Entah itu ketika berhubungan secara muamalah dengan keluarga, dalam keputusan bisnis dan pekerjaan ataupun saat mengurusi urusan-urusan kemasyarakatan, kita pasti sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Mau membeli mobil tapi uang masih tidak cukup. Ingin mendapat proyek tapi harus memberi komisi. Hendak meloloskan undang-undang pro-rakyat tapi tak tahan ‘sogokan’ miliaran yang datang dari yang berkepentingan.  Ingin bersilaturahmi, mengajak keluarga berdamai tapi gengsi … Sungguh pilihan yang serba sulit untuk dipilih!

Bukankah Allah Swt. telah menganugerahkan kepada kita berbagai kemampuan, berbagai potensi sehingga kita dapat berpikir lebih waras, menggunakan akal sehat. Semua perangkat indera yang kita miliki bersama dengan petunjuk yang Allah Swt berikan tentang kondisi berbagai pilihan yang ada, cukup sebagai bekal bagi kita untuk mengenali, memikirkan, dan merenungi berbagai pilihan jalan yang tersedia, manakah yang lebih baik. Jalan yang lempang ataukah jalan yang mendaki.

Jalan yang lempang, umumnya memang lebih mudah dan lebih nyaman. Karena itu banyak diambil oleh orang-orang yang malas dan tidak peduli dampaknya pada orang lain. Ia lebih fokus pada tujuan keuntungan pribadi. Kepeduliannya hanyalah memuaskan kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Sementara “jalan mendaki” dipilih oleh orang yang senantiasa bersemangat melakukan karya terbaik dan selalu ingin berbuat baik kepada orang lain. Spektrum kepeduliannya jauh lebih lebar dan lebih luas.

Mereka yang memahami konsep jalan mendaki senantiasa bersikap optimis dan berusaha melakukan lebih dari yang diharapkan. Akibatnya kemampuan mereka terus berkembang dari waktu ke waktu.

Para olahragawan tahu persis bahwa otot-otot tubuh berkembang semakin kuat jika terus dilatih dan digerakkan. Memang saat menjalaninya, terasa tidak nyaman, pegal, bahkan sakit. Namun dengan cara itulah tubuh makin sehat dan kuat. Begitu pula dengan otot-otot psikologis dan spiritual. Ia pun harus dilatih dengan latihan yang berat agar tumbuh baik menuju kesempurnaan.

Al-Quran memerintahkan kita untuk memilih jalan mendaki, melakukan yang terbaik, sekalipun memang jalan mendaki itu pasti lebih sukar, lebih sulit, sangat tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan.

Kata raqabah dalam ayat diatas diterjemahkan menjadi “orang yang tertindas”, sementara sebagian mufassir lain ada yang menerjemahkannya sebagai “para budak”. Pada zaman modern ini, masyarakat dunia memang sudah tak lagi mengakui perbudakan, namun faktanya kita menyaksikan masih bertebaran di sana sini berbagai kekerasan, penjajahan, pemerasan dan penindasan yang dilakukan manusia atas manusia lain. Hakikatnya semua tindak kejahatan itu serupa dengan perbudakan.

Bahkan yang ironis, ada pula penindasan yang dilakukan atas nama membela agama Allah. Dengan mengatasnamakan Tuhan, mereka mengkafirkan golongan-golongan yang berbeda dan menghalalkan darah mereka. Perhatikan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 94.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan"salam" (laa ilaaha illa Allah): "Kamu bukan mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa : 94)

Abu Hurairah r.’a. dan Ibnu Umar r.’a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya (yang muslim), 'Hai kafir,' maka sungguh tuduhan itu berlaku kepada salah seorang dari keduanya, jika memang tuduhan itu benar; jika tidak, tuduhan itu kembali ke pihak penuduh.”  (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Oleh karena itu, kita harus mengambil tindakan agar konspirasi dan berbagai kejahatan terhadap manusia ini tidak makin merajalela. Kita diperintahkan oleh Allah Swt. untuk senantiasa memilih berpihak membela kaum tertindas. Dengan segala kemampuan yang kita miliki: uang, tenaga, pikiran, dan sumber daya lainnya.

Hal ini pulalah yang dilakukan oleh semua nabi, semua rasul utusan Tuhan. Mereka membebaskan umat manusia dari penindasan yang dilakukan para tirani, dari kekejaman dan kezaliman para penguasa dan kaum mustakbirin. Misi ini pulalah yang kini berada di pundak kita, orang-orang beriman, pengikut setia pelanjut risalah kenabian.

Kita bisa melakukannya dalam posisi dan kedudukan apapun yang saat ini kita miliki. Sebagai pemimpin bangsa, pemimpin daerah, pemimpin komunitas, pemimpin perusahaan … kita perlu senantiasa waspada ketika kita membuat kebijakan, undang-undang, peraturan daerah, keputusan perusahaan … apakah kaum-kaum yang paling bawah yang tak berdaya akan terzalimi atau dirugikan oleh keputusan kita itu. Marilah kita kuatkan niat kita untuk senantiasa menghasilkan keputusan yang membebaskan penderitaan kaum tertindas ini.

Secara mikro, sebagai anggota keluarga besar, kita pun bisa mengambil anak-anak saudara kita yang hidup telantar, yang yatim/piatu ditinggal orang tuanya, yang mengalami kesulitan rezeki … lalu kita mengayomi mereka, melindungi mereka, bahkan mungkin mengambil mereka sebagai “anak-anak kita” dan memperlakukan mereka seperti anak-anak kandung kita, mendidik dan membebaskan mereka dari peluang ketertindasan.

"atau memberi makan di masa-masa kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir"

Ayat ini juga dengan lantang bicara tentang memberi makan di masa-masa kelaparan. Frasa “masa-masa kelaparan” menggambarkan situasi krisis global yang meliputi sekelompok orang atau masyarakat luas. Bukankah sesungguhnya saat ini kita berada dalam aneka ragam krisis berkepanjangan yang menyebabkan masyarakat miskin makin banyak dan makin menderita?

Penempuh jalan mendaki yang jadi sasaran bicara ayat itu adalah mereka yang juga mengalami kondisi kelaparan. Ya, tentu saja, ketika ia memilih untuk membantu orang lain, sementara dirinyapun juga tengah merasakan kelaparan, pastilah sebuah pilihan yang sulit – jalan yang sangat-sangat mendaki. Sekalipun memang sukar, akan tetapi dengan jalan begitulah ruhani kita akan tumbuh dalam keimanan.

Apatah lagi jika hidup kita serba berkecukupan. Kalau kita mau menghisab diri, bisa jadi tanpa kita sadari banyak sekali pembelanjaan dan pengeluaran hidup kita yang sebenarnya tergolong sia-sia, tak bernilai sama sekali disisi Allah Swt. Budaya hedonisme dan komsumtif telah merenggut akal sehat kita. Tanpa punya rasa malu. Kita justru malah membanggakan kekayaan kita bahkan kepada saudara-saudara dan tetangga di kampung yang hidupnya miskin dan fakir sempurna. Apabila mereka datang meminta bantuan sedikit pinjaman, kita jadi pongah bagai raja, lalu mengkhotbahi mereka berjam-berjam … membuat mereka makin merasa rendah, terhina dan malu, dan pulang kecewa tanpa mendapat apa-apa.

Mengingat satu cerita orang tua, tentang kebiasaan di kampung zaman dahulu. Orang-orang tua mewariskan pesan, apabila ada pengemis yang datang, keluarga diminta selalu bergembira menerima mereka, diminta untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah, memberinya makan terlebih dahulu sampai kenyang, dan memberikan hajat apa yang mereka minta, semampunya. Padahal, kita tentu tahu, kehidupan orang-orang tua dahulu jauh dari cukup, rumah pun tak jarang masih beratapkan daun rumbia. Sejatinya mereka juga dirundung hidup dalam kekurangan. Namun kita melihat, jiwanya … selalu merasa berada dalam keberlimpahan. Subhanallah ...

"Hanya dengan begitu kamu termasuk orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang."

Ayat ini makin memperjelas jati diri orang beriman. Keimanan didefinisikan sebagai komitmen untuk membantu orang lain. Komitmen untuk menolong orang-orang tertindas. Komitmen untuk peduli dan berpihak pada kaum fakir miskin. Bahkan termasuk komitmen untuk membantu saudara-saudara terdekat kita, yang sudah jelas ada hubungan kekerabatan dengan kita.

Dalam ayat lain Allah Swt. pun berfirman,

“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz Dzaariyaat: 56
﴿

Tujuan penciptaan kita ialah untuk mengabdi kepada Allah, yang diwujudkan dengan cara mengabdi dan melayani makhluk-Nya. Makna pengabdian disini bukanlah menghinakan diri dan menjadikan diri kita budak, melainkan merelakan diri kita untuk membantu dan menolong orang lain dengan potensi dan kekuatan yang kita miliki (harta, kedudukan, ilmu, jaringan, dan lainnya). Dengan cara itulah kita mengekspresikan keimanan kita kepada Allah Swt.

Mengabdi kepada Allah tidak cukup hanya dalam bentuk ceramah atau tausiah. Namun pengabdian yang lebih penting, yang lebih tinggi (mendaki) ialah dengan cara membantu sesama agar mereka meraih kehidupan yang lebih baik.

Sayangnya, di sekitar kita, masih banyak kita temukan orang-orang yang enggan membantu orang lain, tak mau peduli dengan kesulitan hidup orang lain, sekalipun bahkan keluarga dekat mereka sendiri … Padahal, sejak kecil mereka tekun mendirikan shalat lima waktu dan berpuasa senin kamis. Semua ketaatan syariat yang ia lakukan, bukannya menambah rasa kepeduliannya, malah makin membuatnya asosial, tidak peduli orang lain!

Mari kini kita berniat untuk mulai melakukan perubahan. Untuk menempuh jalan mendaki. Berpihak pada kaum lemah dan tertindas, membebaskan mereka dari cengkeraman “perbudakan”, mendorong kebijakan pro-rakyat, memelopori bantuan-bantuan ekonomi dan permodalan, menyelenggarakan bimbingan, pelatihan & coaching bagi kaum putus sekolah dan anak-anak jalanan, mengambil anak yatim atau anak telantar diantara keluarga besar kita untuk bahkan jika perlu jadi anak-anak angkat, dan lain sebagainya … Sangat banyak yang bisa dilakukan.

Kita bisa mulai dari lingkungan tetangga atau keluarga terdekat kita.

Ya, kita bisa memulai dari mereka yang ada di sekitar kita! Dan itulah sebenar-benarnya bukti keimanan kita.

Akhirul kalam, hendaklah kita semua menyimak peringatan Allah yang disematkan bagi orang yang enggan menapaki jalan mendaki…

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin .." (QS.  Al Maa'uun : 1-3)
Semoga Allah menguatkan kita semua dalam beramaliah, yang senantiasa ikhlas menjalani titian mendaki.

(Naskah diadaptasi dari buku “Al Quran untuk Hidupmu”, karya Dr. Sultan Abdulhameed, terbitan penerbit Zaman)