kajian Muslimah
narasumber : Ustadz widyo Hartanto
Forum Kajian Al-Qur'an Setiap Hari
kajian online, 2 juni 2014
*********************************
Waktu
menunjukkan pukul 23.50. Mata ini masih enggan terpejam, walaupun sudah segala
cara kucoba. Mulai dari memaksakan mata untuk terpejam, baca buku (he, katanya
baca buku bisa menjadi obat mujarab untuk bisa memejamkan mata buat sebagian
orang) dan terakhir mematikan lampu. Akhirnya kucoba untuk memanfaatkan dini hari
ini, untuk merefleksi. Memuhasabah kembali, mereview kejadian-kejadian yang
telah aku lewati.
Teringat
beberapa pekan lalu. Ketika pertemuan rutin kami di salah satu rumah. Awalnya
pembahasan hari itu mengenai pengalaman rekan-rekan yang sudah menikah.
Bagaimana proses sebuah pernikahan itu agar tetap sesuai dengan syariat yang
telah ditentukan. Bagaimana sehingga akhirnya kita bisa menentukan dan
memantapkan hati agar menerima seseorang untuk menjalankan visi hidup secara
bersama. Yakni bukan hanya sekadar menjalin kasih sayang antar dua makhluk.
Bukan hanya menikahkan dua orang anak manusia. Tetapi juga menikah dua keluarga
yang pasti memiliki perbedaan yang signifikan. Selain itu menikah juga
membangun keluarga yang sakinah, mawaddah dan di bawah rahmat Allah serta
menjadikan regenerasi yang mampu melanjutkan perjuangan dijalan dakwah ini. Ada
banyak hal yang bisa dijadikan masukan dan nasihat bagi kami yang nota bane
belum berumah tangga. Sehingga sesekali ada gurauan yang ku lontarkan kepada
kakak-kakak agar menyegerakan dan menyempurnakan separuh din nya.
Ada
satu kisah menarik yang diceritakan. Yaitu tentang seorang laki–laki yang sudah
hampir lanjut usia. Umurnya sudah hampir kepala 4. Anggap lah si A. Tetapi ia
masih belum menemukan jodoh. Padahal dari sisi lain dia adalah seorang yang
mengerti agama, pintar, dan mampu dari segi materil. Hanya saja ketika ada yang
bertanya criteria seperti apa yang ia inginkan. Sampai-sampai dari
sebanyak-banyaknya wanita yang ia temui. Belum ada yang membuatnya tertarik
untuk dijadikan pendamping. Mungkin inilah sumber masalah yang membuat ia belum
menikah. Ketika ditanya sahabatnya (si B) calon seperti apa yang ia inginkan.
Dan A menjawab, “dia harus seperti Siti Khadijah. Minimal mendekati. Harus
cerdas, kaya jika perlu putih, pintar ini, pintar itu dll”. Si B kaget, tapi
mencoba menenangkan diri. Sambil bertanya lagi kepada si A. “Jika kamu
menginginkan kriteria pendamping yang kamu sebutkan tadi. Dan hampir mendekati
seperti ibunda Khadijah RA. Apakah kamu sudah seperti Rasulullah? Yang rela
berjuang untuk dakwah ini dengan perjuangan yang luar biasa? Sontak si A kaget.
Dan membuatnya berfikir kembali dengan kriteria yang telah ditentukannya untuk
mencari pendamping hidup.
Kisah
itu masih berlanjut dengan di sampai hikmah dari cerita itu. Dan aku juga
mencoba mencerna kisah tersebut. Ketika menginginkan seorang pendamping hidup
nantinya. Pasti, sejak kemarin sudah ada kriteria-kriteria yang sudah ada di
pikiran ini. Harus seperti apakah ia nanti, punya apa, hafalannya sudah berapa
juz? Sudah paham tentang Islam sejauh apa? Aplikasi tentang pemahamannya sudah
benar apa belum? Cerdas tidak? Gigih tidak? Sungguh-sungguh tidak? Dan banyak
lagi pertanyaan-pertanyaan yang lain yang menentukan kriteria pendamping hidup
ku nanti. Tapi kisah tadi membuat ku berfikir lagi dengan kriteria-kriteria
yang sudah aku tetapkan. Seperti yang aku ketahui selama ini. Pasangan kita
adalah cerminan dari diri kita. Ketika aku mengajukan kriteria-kriteria yang
bejibun banyaknya dan mendekati sempurnanya seorang manusia. Apakah aku sudah
menjadi pribadi yang aku sebutkan pada kriteria yang aku ajukan? Atau masih
jauh dari semua itu? Nah, jika masih jauh dari semua kriteria itu, apakah
pantas kita meminta lebih sementara kita tidak berusaha untuk menjadi pribadi
yang ada pada kriteria yang kita tetapkan. Ternyata masih sangat jauh. Masih
jauh. Gumamku dalam hati. Jika ingin pendamping seperti Rasulullah, jadikan
dulu dirimu seperti Khadijah atau Aisyah. Jika ingin pendamping seperti Ali bin
Abi Thalib, jadikan dulu dirimu seorang seperti Fatimah Azzahra. Begitu juga
yang lainnya
Subhanallah.
Sore itu cukup menjadi pelajaran bagiku. Cukup menjadi barometer untuk berpikir
kembali. Teman….Ada banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah,
nasihat atau apapun yang kita lihat dan yang kita dengar. Agar kita mampu
menjadi pribadi-pribadi yang berpikir. Hanya saja apakah kita mau atau tidak
mendengarkan dan mencerna nasihat itu agar menjadi suatu pembelajaran untuk
diri kita. Wallahu’alam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar