Kamis, 07 April 2016

Tahukah Kamu, Apakah Jalan Mendaki Lagi Sukar Itu ?



*******

“Bukankah telah Kami berikan kepadanya dua mata, lidah, dan dua bibir?
Dan telah Kami tunjukkan kepadanya dua jalan? Tetapi ia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?


(Yaitu) membebaskah orang-orang yang tertindas, atau memberi makan di masa-masa kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir. Hanya dengan begitu kamu termasuk orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang.”
(QS. Al-Balad, 8 – 16)
*******

Tatkala berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit, bagai “buah simalakama”, manakah jalan yang Anda pilih? Apakah cenderung mengambil jalan “enak” yang lebih mudah? Ataukah berusaha mengikuti ketukan suci hati nurani … yang biasanya memang lebih sulit?

Entah itu ketika berhubungan secara muamalah dengan keluarga, dalam keputusan bisnis dan pekerjaan ataupun saat mengurusi urusan-urusan kemasyarakatan, kita pasti sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Mau membeli mobil tapi uang masih tidak cukup. Ingin mendapat proyek tapi harus memberi komisi. Hendak meloloskan undang-undang pro-rakyat tapi tak tahan ‘sogokan’ miliaran yang datang dari yang berkepentingan.  Ingin bersilaturahmi, mengajak keluarga berdamai tapi gengsi … Sungguh pilihan yang serba sulit untuk dipilih!

Bukankah Allah Swt. telah menganugerahkan kepada kita berbagai kemampuan, berbagai potensi sehingga kita dapat berpikir lebih waras, menggunakan akal sehat. Semua perangkat indera yang kita miliki bersama dengan petunjuk yang Allah Swt berikan tentang kondisi berbagai pilihan yang ada, cukup sebagai bekal bagi kita untuk mengenali, memikirkan, dan merenungi berbagai pilihan jalan yang tersedia, manakah yang lebih baik. Jalan yang lempang ataukah jalan yang mendaki.

Jalan yang lempang, umumnya memang lebih mudah dan lebih nyaman. Karena itu banyak diambil oleh orang-orang yang malas dan tidak peduli dampaknya pada orang lain. Ia lebih fokus pada tujuan keuntungan pribadi. Kepeduliannya hanyalah memuaskan kebutuhan dan keinginan diri sendiri. Sementara “jalan mendaki” dipilih oleh orang yang senantiasa bersemangat melakukan karya terbaik dan selalu ingin berbuat baik kepada orang lain. Spektrum kepeduliannya jauh lebih lebar dan lebih luas.

Mereka yang memahami konsep jalan mendaki senantiasa bersikap optimis dan berusaha melakukan lebih dari yang diharapkan. Akibatnya kemampuan mereka terus berkembang dari waktu ke waktu.

Para olahragawan tahu persis bahwa otot-otot tubuh berkembang semakin kuat jika terus dilatih dan digerakkan. Memang saat menjalaninya, terasa tidak nyaman, pegal, bahkan sakit. Namun dengan cara itulah tubuh makin sehat dan kuat. Begitu pula dengan otot-otot psikologis dan spiritual. Ia pun harus dilatih dengan latihan yang berat agar tumbuh baik menuju kesempurnaan.

Al-Quran memerintahkan kita untuk memilih jalan mendaki, melakukan yang terbaik, sekalipun memang jalan mendaki itu pasti lebih sukar, lebih sulit, sangat tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan.

Kata raqabah dalam ayat diatas diterjemahkan menjadi “orang yang tertindas”, sementara sebagian mufassir lain ada yang menerjemahkannya sebagai “para budak”. Pada zaman modern ini, masyarakat dunia memang sudah tak lagi mengakui perbudakan, namun faktanya kita menyaksikan masih bertebaran di sana sini berbagai kekerasan, penjajahan, pemerasan dan penindasan yang dilakukan manusia atas manusia lain. Hakikatnya semua tindak kejahatan itu serupa dengan perbudakan.

Bahkan yang ironis, ada pula penindasan yang dilakukan atas nama membela agama Allah. Dengan mengatasnamakan Tuhan, mereka mengkafirkan golongan-golongan yang berbeda dan menghalalkan darah mereka. Perhatikan firman Allah SWT dalam QS. An-Nisa ayat 94.

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan"salam" (laa ilaaha illa Allah): "Kamu bukan mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. An-Nisa : 94)

Abu Hurairah r.’a. dan Ibnu Umar r.’a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Siapa saja yang berkata kepada saudaranya (yang muslim), 'Hai kafir,' maka sungguh tuduhan itu berlaku kepada salah seorang dari keduanya, jika memang tuduhan itu benar; jika tidak, tuduhan itu kembali ke pihak penuduh.”  (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Oleh karena itu, kita harus mengambil tindakan agar konspirasi dan berbagai kejahatan terhadap manusia ini tidak makin merajalela. Kita diperintahkan oleh Allah Swt. untuk senantiasa memilih berpihak membela kaum tertindas. Dengan segala kemampuan yang kita miliki: uang, tenaga, pikiran, dan sumber daya lainnya.

Hal ini pulalah yang dilakukan oleh semua nabi, semua rasul utusan Tuhan. Mereka membebaskan umat manusia dari penindasan yang dilakukan para tirani, dari kekejaman dan kezaliman para penguasa dan kaum mustakbirin. Misi ini pulalah yang kini berada di pundak kita, orang-orang beriman, pengikut setia pelanjut risalah kenabian.

Kita bisa melakukannya dalam posisi dan kedudukan apapun yang saat ini kita miliki. Sebagai pemimpin bangsa, pemimpin daerah, pemimpin komunitas, pemimpin perusahaan … kita perlu senantiasa waspada ketika kita membuat kebijakan, undang-undang, peraturan daerah, keputusan perusahaan … apakah kaum-kaum yang paling bawah yang tak berdaya akan terzalimi atau dirugikan oleh keputusan kita itu. Marilah kita kuatkan niat kita untuk senantiasa menghasilkan keputusan yang membebaskan penderitaan kaum tertindas ini.

Secara mikro, sebagai anggota keluarga besar, kita pun bisa mengambil anak-anak saudara kita yang hidup telantar, yang yatim/piatu ditinggal orang tuanya, yang mengalami kesulitan rezeki … lalu kita mengayomi mereka, melindungi mereka, bahkan mungkin mengambil mereka sebagai “anak-anak kita” dan memperlakukan mereka seperti anak-anak kandung kita, mendidik dan membebaskan mereka dari peluang ketertindasan.

"atau memberi makan di masa-masa kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir"

Ayat ini juga dengan lantang bicara tentang memberi makan di masa-masa kelaparan. Frasa “masa-masa kelaparan” menggambarkan situasi krisis global yang meliputi sekelompok orang atau masyarakat luas. Bukankah sesungguhnya saat ini kita berada dalam aneka ragam krisis berkepanjangan yang menyebabkan masyarakat miskin makin banyak dan makin menderita?

Penempuh jalan mendaki yang jadi sasaran bicara ayat itu adalah mereka yang juga mengalami kondisi kelaparan. Ya, tentu saja, ketika ia memilih untuk membantu orang lain, sementara dirinyapun juga tengah merasakan kelaparan, pastilah sebuah pilihan yang sulit – jalan yang sangat-sangat mendaki. Sekalipun memang sukar, akan tetapi dengan jalan begitulah ruhani kita akan tumbuh dalam keimanan.

Apatah lagi jika hidup kita serba berkecukupan. Kalau kita mau menghisab diri, bisa jadi tanpa kita sadari banyak sekali pembelanjaan dan pengeluaran hidup kita yang sebenarnya tergolong sia-sia, tak bernilai sama sekali disisi Allah Swt. Budaya hedonisme dan komsumtif telah merenggut akal sehat kita. Tanpa punya rasa malu. Kita justru malah membanggakan kekayaan kita bahkan kepada saudara-saudara dan tetangga di kampung yang hidupnya miskin dan fakir sempurna. Apabila mereka datang meminta bantuan sedikit pinjaman, kita jadi pongah bagai raja, lalu mengkhotbahi mereka berjam-berjam … membuat mereka makin merasa rendah, terhina dan malu, dan pulang kecewa tanpa mendapat apa-apa.

Mengingat satu cerita orang tua, tentang kebiasaan di kampung zaman dahulu. Orang-orang tua mewariskan pesan, apabila ada pengemis yang datang, keluarga diminta selalu bergembira menerima mereka, diminta untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah, memberinya makan terlebih dahulu sampai kenyang, dan memberikan hajat apa yang mereka minta, semampunya. Padahal, kita tentu tahu, kehidupan orang-orang tua dahulu jauh dari cukup, rumah pun tak jarang masih beratapkan daun rumbia. Sejatinya mereka juga dirundung hidup dalam kekurangan. Namun kita melihat, jiwanya … selalu merasa berada dalam keberlimpahan. Subhanallah ...

"Hanya dengan begitu kamu termasuk orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan berkasih sayang."

Ayat ini makin memperjelas jati diri orang beriman. Keimanan didefinisikan sebagai komitmen untuk membantu orang lain. Komitmen untuk menolong orang-orang tertindas. Komitmen untuk peduli dan berpihak pada kaum fakir miskin. Bahkan termasuk komitmen untuk membantu saudara-saudara terdekat kita, yang sudah jelas ada hubungan kekerabatan dengan kita.

Dalam ayat lain Allah Swt. pun berfirman,

“Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku” (QS. Adz Dzaariyaat: 56
﴿

Tujuan penciptaan kita ialah untuk mengabdi kepada Allah, yang diwujudkan dengan cara mengabdi dan melayani makhluk-Nya. Makna pengabdian disini bukanlah menghinakan diri dan menjadikan diri kita budak, melainkan merelakan diri kita untuk membantu dan menolong orang lain dengan potensi dan kekuatan yang kita miliki (harta, kedudukan, ilmu, jaringan, dan lainnya). Dengan cara itulah kita mengekspresikan keimanan kita kepada Allah Swt.

Mengabdi kepada Allah tidak cukup hanya dalam bentuk ceramah atau tausiah. Namun pengabdian yang lebih penting, yang lebih tinggi (mendaki) ialah dengan cara membantu sesama agar mereka meraih kehidupan yang lebih baik.

Sayangnya, di sekitar kita, masih banyak kita temukan orang-orang yang enggan membantu orang lain, tak mau peduli dengan kesulitan hidup orang lain, sekalipun bahkan keluarga dekat mereka sendiri … Padahal, sejak kecil mereka tekun mendirikan shalat lima waktu dan berpuasa senin kamis. Semua ketaatan syariat yang ia lakukan, bukannya menambah rasa kepeduliannya, malah makin membuatnya asosial, tidak peduli orang lain!

Mari kini kita berniat untuk mulai melakukan perubahan. Untuk menempuh jalan mendaki. Berpihak pada kaum lemah dan tertindas, membebaskan mereka dari cengkeraman “perbudakan”, mendorong kebijakan pro-rakyat, memelopori bantuan-bantuan ekonomi dan permodalan, menyelenggarakan bimbingan, pelatihan & coaching bagi kaum putus sekolah dan anak-anak jalanan, mengambil anak yatim atau anak telantar diantara keluarga besar kita untuk bahkan jika perlu jadi anak-anak angkat, dan lain sebagainya … Sangat banyak yang bisa dilakukan.

Kita bisa mulai dari lingkungan tetangga atau keluarga terdekat kita.

Ya, kita bisa memulai dari mereka yang ada di sekitar kita! Dan itulah sebenar-benarnya bukti keimanan kita.

Akhirul kalam, hendaklah kita semua menyimak peringatan Allah yang disematkan bagi orang yang enggan menapaki jalan mendaki…

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin .." (QS.  Al Maa'uun : 1-3)
Semoga Allah menguatkan kita semua dalam beramaliah, yang senantiasa ikhlas menjalani titian mendaki.

(Naskah diadaptasi dari buku “Al Quran untuk Hidupmu”, karya Dr. Sultan Abdulhameed, terbitan penerbit Zaman)








Tidak ada komentar:

Posting Komentar